Bukti Mengejutkan di Balik Kebiasaan Membatalkan Pengendara Motor

VIVA   – Sepeda motor masih jadi andalan sebagian besar masyarakat di Indonesia, untuk menunjang kegiatan sehari-hari. Setiap tahun, lebih dari enam juta unit model baru dikirim dibanding pabrik ke diler.

Meski demikian, ternyata pengendara mesin juga yang paling banyak menjalani kecelakaan. Berdasarkan data yang diungkapkan Kementerian Perhubungan, tahun lalu 73, 1 persen kecelakaan di Tanah Air dialami oleh para pemotor.

Sementara, kecelakaan yang melibatkan mobil hanya 14 komisi, disusul truk 7, 2 persen, sepeda 1, 8 persen dan bus 1, 1 persen. Sisanya adalah kecelakaan lain, yang bilangan 2, 9 persen.

Masih dari bukti yang sama, total kecelakaan yang terjadi di 2019 yakni sebanyak 116. 411 kasus, dengan jumlah korban meninggal dunia lebih dari 25 ribu jiwa.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang membuat para-para pemotor sering mengalami musibah saat berkendara di jalan.

“Kami melihatnya dari empat asas, yakni faktor manusia, faktor organ, faktor jalan, dan faktor lingkungan, ” ujarnya saat menghadiri webinar Kemenhub  yang diadakan bersama Yamaha Indonesia, dikutip  VIVA Otomotif   Minggu 20 Desember 2020.

Untuk faktor kendaraan, Dirjen mengatakan bahwa Kemenhub sudah memastikan bahwa setiap kendaraan dengan akan diproduksi secara massal & dipasarkan di dalam negeri melewati proses uji tipe, sehingga meyakinkan keamanannya.

Lalu, ciri jalan meliputi masih adanya kurang wilayah yang kondisinya berlubang. Faktor lingkungan berhubungan dengan banyak peristiwa, seperti hujan, kurangnya lampu penerangan dan adanya tikungan.

Menurut Budi, faktor terbesar dengan dicatat oleh Korps Lalu Lin Polri sebagai penyebab tingginya angka kecelakaan pemotor adalah dari pribadi, yakni si pengendara itu tunggal.

“Kompetensi, keterampilannya  mengoperasikan rem saat berada di pekerjaan. Termasuk juga persiapan sebelum berkendara, cek dulu rem, gas & lampu, ” tuturnya.

“Paling banyak itu lengah, tidak konsentrasi. Antara tangan, kaki, sembrono, dan pikiran tidak sejalan. Lalu terlalu percaya diri, misalnya saat hendak mendahului, ” kata dia menambahkan.