Mobil Listrik Bisa Bikin Rupiah Menguat

VIVA   –  Masih banyak masyarakat Nusantara yang memandang skeptis terhadap mobil listrik, seperti daya tahan baterainya serta bagaimana jika harus melewati banjir.

Mereka serupa tidak langsung tertarik untuk memiliki kendaraan canggih tersebut, karena kacau akan mengalami kekecewaan saat nanti digunakan sehari-hari.

Real, sudah banyak bukti bahwa setrum yang disimpan dalam baterai cukup untuk pemakaian sehari-hari di perkotaan selama kurang lebih satu minggu.

Zaman yang dibutuhkan untuk mengisi ulang baterai kini juga sudah jauh lebih singkat, yakni kurang daripada satu jam jika menggunakan Tumpuan Pengisian Kendaraan Listrik Umum dengan sistem fast charging .

Kekhawatiran hendak minimnya infrastruktur juga sebenarnya tak lagi beralasan, sebab produsen menyediakan alat cas untuk dipakai pada rumah. Waktu yang dibutuhkan had baterai penuh yakni sekitar 6 jam, itu pun jika baterai dalam keadaan nyaris kosong gaya listriknya.

Kehadiran pabrik pembuatan mobil listrik di Indonesia, kata Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Mesin Manufacturing Indonesia, Bob Azam selalu bisa membantu meningkatkan pemasukan negeri.

“Elektrifikasi kendaraan bisa jadi salah satu andalan komoditi ekspor. Otomotif tercatat produk berteknologi tinggi, dan gaya satu negara itu bisa dipandang dari kemampuan dia mengekspor produk teknologi tinggi, ” ujarnya era konferensi pers virtual, dikutip VIVA Otomotif Kamis 17 Desember 2020.

Dengan naiknya ekspor produk otomotif, kata Bob, oleh karena itu hal itu akan berdampak pada neraca perdagangan, yang salah kepala efeknya adalah menguatnya nilai rukar rupiah.

“Ke depan kita harus memperhatikan ekspor, supaya trade balance kami  juga positif. Nanti juga akan berpengaruh ke lengah uang kita yang lebih kuat, ” tuturnya.

Walaupun demikian, Bob mengaku bahwa buat mewujudkan itu perlu peran aktif dari pemerintah. Tumbuhnya industri mobil listrik hanya bisa dicapai dalam waktu cepat, apabila ada kebijakan yang mendukung hal itu.

“Kalau cuma pasar domestik, skala ekonominya butuh waktu. Akan tetapi dengan adanya pasar ekspor, ana berharap skala ekonominya bisa makbul dan pada gilirannya nanti bisa memberikan kontribusi untuk industri desa, yaitu di tambang nikel, ” jelasnya.