tujuh Hal Ini Bisa Bikin Mobil Listrik Jadi Tren di Indonesia

VIVA   – Keberadaaan mobil lisrtrik sudah mulai banyak di Indonesia. Baik dalam hal merek, maupun jenis dan tipe dengan dihadirkan ke konsumen.

Terbaru adalah Nissan Leaf, yang awalnya akan diluncurkan pada tarikh ini namun harus ditunda kelanjutan pandemi. Mengusung konsep mobil elektrik murni, kendaraan yang hadir dalam dunia sejak 2010 ini sudah laku lebih dari 500 seperseribu unit.

Namun, wabah virus bukan satu-satunya kendala untuk para produsen untuk menghadirkan instrumen canggih yang bebas emisi tersebut. Ada beberapa faktor lain yang harus diselesaikan terlebih dahulu, biar mobil listrik bisa jadi gaya di Indonesia.

Dalam rangkaian diskusi bertema Urgensi Kebijakan dan Insentif Pemerintah untuk Mendukung Program Mobil Listrik  yang digelar oleh Forum Wartawan Otomotif Nusantara (FORWOT) dan Forum Wartawan Pabrik (FORWIN), ada tujuh rekomendasi dengan dihasilkan.

  Beserta daftarnya, dikutip  VIVA Otomotif   pada Rabu 16 Desember 2020:

1. Kolaborasi regulator dan karakter industri
Riset yang dilakukan Frost and Sullivan membuktikan, 41 persen pengguna kendaraan di Indonesia siap beralih ke macam yang digerakkan energi listrik. Meski demikian, ada sejumlah tantangan untuk mewujudkannya, seperti harga jual dengan masih mahal dan belum adanya ekosistem.

2. Instansi dan BUMN satu suara
Dibutuhkan kolaborasi antar regulator, di antaranya  Kemenko Maritim dan Investasi, Kemenko Perekonomian, Kemenperin, Kemenkeu, Kemenhub, Kementerian ESDM, PLN, dan Pertamina. Biar, kebijakan yang dikeluarkan satu pandangan dan didukung oleh instansi asing.

Photo:

  • VIVAnews/Arrijal Rahman

3. Insentif pajak
Penasihat Jenderal Industri Logam, Mesin, Cara Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier mengatakan bahwa masyarakat enggan membeli mobil elektrik karena harganya mahal. Itu sebabnya, butuh insentif seperti yang dikerjakan di negara lain, seperti potongan (harga) Pajak Penghasilan produsen, keringanan harga impor hingga pajak nol komisi saat pembelian.

4. Mobil  hybrid   dibutuhkan untuk transisi
Banyak yang masih khawatir soal keandalan dan kemudahan dari kendaraan listrik. Kehadiran mobil  hybrid   yang menjalankan motor listrik sebagai satu-satunya dalang, seperti Nissan dengan teknologi e-Power, boleh jadi pilihan selama masa transisi.

Photo:

  • Nissan Indonesia

5. IKM pendukung
Pemerintah didorong untuk  memastikan kesiapan pabrik pendukung, khususnya skala kecil menengah sehingga tetap dapat berkontribusi pada era kendaraan listrik. Sebagai informasi, kapasitas produksi otomotif nasional era ini 2, 4 juta bagian per tahun, tapi baru dipergunakan sebesar 54 persen.

6. Kuota impor terang
Pemerintah juga bisa diharapkan  selalu transparan dalam kejadian kebijakan kuota impor kendaraan elektrik dan hybrid,   yang didatangkan secara lengkap dari luar negeri. Agar, terbentuk iklim kompetisi yang adil & sehat.

tujuh. Edukasi masyarakat
Para pelaku industri dan regulator  diharapkan bisa lebih gencar dalam hal pemberian edukasi pada masyarakat hendak kendaraan listrik. Hal ini mampu dilakukan dalam berbagai bentuk, tercatat sosial budaya, kesehatan dan teknologi.